Rabu, 29 April 2020

SERIES 2#

 
Sesungguhnya tidak ada yang sulit dalam hidup manakala kita selalu bersandar kepada usaha dan kebenaran hakiki milik Allah. Kesulitan dan kemudahan, hakikatnya diri kita sendiri yang menyebabkannya. Tiada satu kesulitan dating, kecuali karena kita memang melupakan Allah. Tiada kemudahan itu datang, kecuali Allah saying pada kita dan kita pandai merayu-Nya.

Sungguh, bersama kesulitan itu ada kemudahan
Sungguh, bersama kesulitan itu ada kemudahan
-QS.Al-Insyirah(94):5-6

Para ulama mengatakan bahwa ayat jaminan di atas maknanya adalah setelah sebuah kesulitan itu datanh, maka akan datang dua kemudahan atau kebahagaiaan. Sungguh, tawaran dan solusi dari Allah sangat adil untuk kita yang sering berkeluh kesah karena banyak masalah. Inilah saatnya kita meminta kepada-Nya agar dia segera mencabut semua permasalahan hidup kita.

Manusialah yang selalu mempersulit diri dan membuat kesulitan-kesulitan baru. Jika sedekah tidak bisa dilakukan dengan harta, mengapa kita tidak melakukannya dengan tenaga ? Jika menikah itu sangat gampang, mengapa kita malah sering memperberatnya dengan syarat-syarat dunia yang susah dipenuhi ? Jika hati sering gelisah dan gundah, mengapa harus larut dalam kepahitan? Allah sudah menyediakan solusi yang tepat untuk mendapatkan ketenangan yaitu dengan berzikir, niscaya hati akan tenang. 

Sesungguhnya, jalan keluar dari setiap masalah hidup adalah dengan bertawakal dan memasrahkan diri kepada Allah. Bila dua sikap itu tidak ada di dalam diri kita, kemudahakan dan ketenangan hidup tidak akan pernah bias didapatkan. Mengapa ? Karena Allah yang Mahakuasa bisa mengganti kesulitan menjadi kemudahan, dan kemudahan menjadi kesempitan.
Apapun jalan yang ditempuh oleh kita sebagai upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah, itu akan menjadi niat ibadah, selama di hati kita ada iman. Jalan yang ditempuh tersebut, tidak pantas kita menyebutnya, mengeluhkannya dan mencaci makinya dengan alasan putus asa. Hidup terlalu berharga kalau hanya dihabiskan dengan memperberat jalan hidup.

Tidaklah Allah menetapkan sesuatu bagi orang yang beriman, kecuali kebaikan baginya. Jika diberikan nikmat, ia bersyukur, itu menjadi kebaikan baginya. Sedangkan jika ditimpah suatu kesulitan, ia bersabar, itu menjadi kebaikan baginya. Semua itu tidak akan terjadi, kecuali kepada orang yang beriman. (HR.MUSLIM)

Jika bersabar saat sulit, Allah akan menjadikan kesabaran itu sebagai kebaikan. Jika bersyukur ketika bahagia, Allah juga akan menjadikan syukur itu sebagai kebaikan. Jika semuanya menjadi kebaikan, mengapa kita harus mempersulit hidup kita sendiri ? Mengapa kita harus berlumur ragu akan janji-janji Allah ? Mengapa kita meragukan Allah yang akan menjamin ketenangan jiwa kita ? Ataukah keimanan kita yang tipis hingga ragu ?

Ketika kita merasa lambat memperoleh jalan keluar, padahal sudah banyak doa dipanjatkan hingga putus asa membayangi, orang yang beriman akan berkata kepada dirinya sendiri, “Sesungguhnya aku telah ada sebelum engkau datang, wahai kesulitan. Jika memang ada kebaikan padamu, tentu aku siap menghadapinya.”

Sikap seperti ini jelas lebih disukai Allah daripada sekadar menerimanya sebagai kekalahan. Mengapa ? Karena dengan demikian, orang yang beriman menyadari kelemahannya di hadapan Tuhannya dan mengakui bahwa dirinya memang orang yang pantas dan bisa melewati ujian tersebut. Ia juga menyadari bahwa doanya memang belum saatnya dikabulkan